Dalam kehidupan pergaulan di tengah masyarakat, terkadang sejumlah orang
secara sadar memberikan tanggapan atau komentar bernada pedas, untuk
maksud menyindir atau menyudutkan, terutama pada saat mereka
membicarakan adanya kekurangan atau kesalahan pada orang lain.
Nurani mereka begitu cepat tergelitik untuk merampas hak berbicara atau menentukan sikap orang lain, yaitu melalui penyampaian opini-opini kepada publik.
Mereka mencoba untuk membangun suatu stigma atau perspektif negatif masyarakat, yaitu dengan menghadirkan anggapan, kalau pernyataan maupun perbuatan orang lain tersebut, telah menimbulkan kemarahan suatu kelompok masyarakat tertentu, karena dianggap telah melampaui batas wewenang atau tanggung jawabnya.
Padahal, suatu permasalahan baru justru timbul ke permukaan, karena opini-opini yang mereka bangun tersebut, seakan-akan mewakili pendapat umum sejumlah besar elemen masyarakat.
Mereka sengaja menghadirkan suatu pengadilan publik dengan cara menghadirkan tuduhan yang disertai dengan penyampaian sejumlah argumentasi-argumentasi untuk memperkuat opini, atau dengan menciptakan pandangan-pandangan yang memperluas masalah, meskipun sesungguhnya, mereka tidak mengetahui dengan baik serta benar bagaimana permasalahan yang ada.
Ada sisi subyek serta obyek yang diserang atau disudutkan. Etika dalam memberikan komentar, dilanggar dengan seenak dan sekenanya.
Meskipun mereka sendiri tidak mengenal dengan baik pribadi orang lain yang mereka kritisi tersebut, namun sebuah citra buruk sengaja dihadirkan, seakan-akan mereka ingin membunuh karakter pribadi dari orang lain itu.
Teganya, segenap opini-opini yang mereka hadirkan itu, saling melengkapi. Bahkan terkadang, prinsip melanggar etika moral dibawa-bawa, meskipun permasalahan yang ada, tidak bersinggungan dengan moral.
Kehebohan yang dihadirkan dalam mengemukakan pendapat, membuat mereka berani memaparkan suatu sisi yang dirasakan nyeleneh, dengan menggunakan gaya bahasa bebas, yaitu kata-kata atau pola bahasa yang tidak bermoral.
Dalam hal ini, mereka menganggap, cara mereka beropini dengan menggunakan gaya bahasa bebas tersebut, adalah bagian dari kebebasan mengemukakan pendapat dalam iklim demokrasi.
Layak dan pantaskah sikap itu mereka tunjukkan? Padahal, mereka adalah bagian dari anggota masyarakat yang terdidik. Namun, kenapa pada saat mereka menyampaikan pendapat, kata-kata yang tidak bermoral ataupun tidak beretika, dibiarkan meluncur keluar tanpa kendali dari mulut mereka?
Rekan-rekan sekalian,
Tanpa harus memandang siapa pribadi yang sedang kita hadapi, selayaknya kita bisa menempatkan perilaku terdidik serta menghormati orang lain. Kita harus sadar kalau hal yang sama juga bisa terjadi pada diri kita. Dalam hal ini, meskipun kita memiliki pengetahuan atau wawasan yang baik akan suatu permasalahan, kita jangan membuat diri kita bodoh oleh karena perkataan kita.
Sebagai masyarakat terdidik, kita harus membiasakan diri untuk menyampaikan opini dengan memperhatikan etika dalam berbicara atau mengemukakan pendapat. Semakin tinggi tingkat pendidikan, wawasan, maupun kemampuan berpikir kita, maka sudah selayaknya kita, dapat menggunakan kata-kata cerdas (memiliki makna serta terarah pada masalah) dan juga santun, untuk mengekspresikan apa yang ada didalam benak pikiran kita.
Apabila kita terlibat pembicaraan didalam suatu forum diskusi, berbagai opini yang kita sampaikan, haruslah memiliki dasar atau konsep pemikiran yang jelas serta benar, tidak bernada kasar, berkesan asal-asalan atau sekenanya saja.
Dengan kata lain, satu atau sejumlah alasan serta alur pemikiran dengan argumentasi yang tepat dan benar, harus ada dibalik opini-opini yang kita sampaikan. Sesuatu yang logis harus dapat kita kemukakan tanpa harus menghadirkan suatu keinginan untuk menciderai perasaan atau hati orang lain.
Hal yang tidak kalah pentingnya, sebaiknya kita tidak menghadirkan suatu opini yang ingin mempertentang-tentangkan prinsip atau pendapat orang lain dengan sesuatu hal yang tidak sesuai dengan konteks pembicaraan, untuk maksud mengalihkan perhatian atau untuk menyenangkan ego kita semata.
Situasi mungkin berubah menjadi emosional. Apabila keadaan itu terjadi, berusahalah untuk tetap bersikap tenang. Hati boleh panas, namun kepala kita harus tetap dingin. Thing fresh…
Apabila kita dapat bersikap tenang, kecil kemungkinan, kita bisa terbawa arus suasana emosional. Ketenangan sikap, bisa membuat kita mengendalikan suasana karena sikap tenang yang kita tunjukkan, cenderung membuat kita untuk tidak bertindak gegabah, yaitu mengucapkan kata-kata yang sekenanya, cenderung kasar, tidak bermoral atau tidak beretika.
Pada sisi yang lain, apabila kita mencoba untuk mempertentang-tentangkan prinsip maupun pendapat orang lain, itu sama artinya kita mencari-cari kesalahan orang lain atau menciptakan sebuah permasalahan baru yang belum tentu berguna, karena dalam sikap yang mempertentangkan, tidak ada upaya untuk mencari nilai-nilai kebenaran dari permasalahan yang ada.
Ketika seseorang menyebutkan dirinya terdidik, maka seharusnya seseorang tersebut mampu menjunjungkan adanya upaya mencari dan mendapatkan nilai-nilai kebenaran sebagai suatu kondisi atau keadaan yang selayaknya menjadi kondisi faktual dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Selain hal-hal diatas, maka ada beberapa hal lain yang patut diperhatikan sebelum kita menyampaikan pendapat kita mengenai orang lain.
Biasakanlah untuk berpikir dahulu baru bicara, jangan berbicara dahulu baru berpikir. Use your mind to control yourself and to control what you want to say…
Apabila kita menempatkan konsep berpikir terlebih dahulu baru berbicara, kita belajar untuk tidak membuat kesalahan berucap, atau bisa segera mengkoreksi kata-kata yang salah maupun kata-kata yang tak layak diucapkan.
Pengendalian diri juga bisa membuat kita bersikap serta bertindak bijaksana, dimana upaya untuk mengendalikan segenap pernyataan yang kita buat, dapat menghindarkan kita dari suatu pembicaraan yang mengarah pada perdebatan tanpa akhir.
Menyimak dan mencermati pembicaraan, perlu dilakukan agar kita tidak salah dalam memberikan tanggapan maupun memberikan komentar yang menyimpang dari topik yang sedang dibicarakan didiskusikan. Oleh karena itu, pemahaman atau pengertian akan seluruh isi bahan pembicaraan, perlu dilakukan sejak awal.
Gunakanlah tata atau gaya bahasa yang tidak memancing emosi atau rasa kesal orang lain. Pakailah kata-kata yang sederhana sehingga mudah dimengerti dan dipahami, sehingga maksud dan tujuan komentar kita, dapat mudah dicerna orang lain.
Hormati serta hargai segenap tanggapan, komentar, maupun pendapat yang diberikan orang lain, sehingga orang lain juga akan menghormati dan menghargai tanggapan, komentar, atau pendapat yang kita sampaikan.
Terkait dengan sikap menghormati dan menghargai diatas, biasakanlah diri kita untuk menjadi seorang pendengar yang baik. Janganlah kita membiasakan diri untuk suka memotong perkataan orang lain.
Mungkin, dengan suka memotong perkataan orang lain, kita ingin menguasai forum pembicaraan. Padahal, dengan menghadirkan sikap suka memotong perkataan orang lain, kita justru memperlambat penyelesaian masalah yang sedang dibicarakan.
Dengan mendengarkan secara lengkap pemaparan dari pola pemikiran orang lain, kita akan mengetahui hal-hal apa saja yang sesungguhnya ingin disampaikan orang lain melalui tanggapan, komentar, atau pendapatnya.
Jangan pernah menyerang pribadi dari orang yang memberikan tanggapan, komentar, atau pendapat. Karena apabila itu kita lakukan, itu sama artinya, kita melihat selumbar di dalam diri orang lain, sedangkan balok di dalam matanya sendiri, tidak dilihatnya.
Segera terselesaikan kah masalah yang sedang dibicarakan? Tentu tidak.
Upaya untuk menyerang sisi pribadi dari orang yang memberikan pendapat, tidaklah membuat pembicaraan yang ada, segera mencapai kata sepakat atau kesimpulan akhir, akan tetapi akan merembet pada hal-hal lain yang sesungguhnya tidak perlu dijadikan bahan pembicaraan.
Yaaa… kita memang harus bersikap pintar. Tapi segenap kepintaran kita adalah untuk memecahkan masalah, bukan pintar dalam membuat masalah…
Oleh karena itu, apabila kita ingin memberikan tanggapan, komentar, atau pendapat yang terkait dengan orang lain atau sebuah peristiwa, biasakanlah diri kita mengungkapkannya berdasarkan fakta atau realita yang ada. Jangan ngarang, berdasarkan apa kata orang lain atau menggunakan asumsi pribadi.
Yaaa... terkait dengan orang lain atau kejadian yang melibatkan orang lain, kita harus memiliki bukti, data, atau fakta yang diakui kebenarannya. Tanpa bukti atau fakta, sebaiknya kita diam saja atau menanyakannya terlebih dahulu.
Diri yang mau belajar adalah pribadi yang sedang meniti tangga kesuksesan hidup, karena dengan belajar, seseorang dapat mengetahui apa yang terbaik untuk dilakukan bagi kemajuan dirinya.
Nurani mereka begitu cepat tergelitik untuk merampas hak berbicara atau menentukan sikap orang lain, yaitu melalui penyampaian opini-opini kepada publik.
Mereka mencoba untuk membangun suatu stigma atau perspektif negatif masyarakat, yaitu dengan menghadirkan anggapan, kalau pernyataan maupun perbuatan orang lain tersebut, telah menimbulkan kemarahan suatu kelompok masyarakat tertentu, karena dianggap telah melampaui batas wewenang atau tanggung jawabnya.
Padahal, suatu permasalahan baru justru timbul ke permukaan, karena opini-opini yang mereka bangun tersebut, seakan-akan mewakili pendapat umum sejumlah besar elemen masyarakat.
Mereka sengaja menghadirkan suatu pengadilan publik dengan cara menghadirkan tuduhan yang disertai dengan penyampaian sejumlah argumentasi-argumentasi untuk memperkuat opini, atau dengan menciptakan pandangan-pandangan yang memperluas masalah, meskipun sesungguhnya, mereka tidak mengetahui dengan baik serta benar bagaimana permasalahan yang ada.
Ada sisi subyek serta obyek yang diserang atau disudutkan. Etika dalam memberikan komentar, dilanggar dengan seenak dan sekenanya.
Meskipun mereka sendiri tidak mengenal dengan baik pribadi orang lain yang mereka kritisi tersebut, namun sebuah citra buruk sengaja dihadirkan, seakan-akan mereka ingin membunuh karakter pribadi dari orang lain itu.
Teganya, segenap opini-opini yang mereka hadirkan itu, saling melengkapi. Bahkan terkadang, prinsip melanggar etika moral dibawa-bawa, meskipun permasalahan yang ada, tidak bersinggungan dengan moral.
Kehebohan yang dihadirkan dalam mengemukakan pendapat, membuat mereka berani memaparkan suatu sisi yang dirasakan nyeleneh, dengan menggunakan gaya bahasa bebas, yaitu kata-kata atau pola bahasa yang tidak bermoral.
Dalam hal ini, mereka menganggap, cara mereka beropini dengan menggunakan gaya bahasa bebas tersebut, adalah bagian dari kebebasan mengemukakan pendapat dalam iklim demokrasi.
Layak dan pantaskah sikap itu mereka tunjukkan? Padahal, mereka adalah bagian dari anggota masyarakat yang terdidik. Namun, kenapa pada saat mereka menyampaikan pendapat, kata-kata yang tidak bermoral ataupun tidak beretika, dibiarkan meluncur keluar tanpa kendali dari mulut mereka?
Rekan-rekan sekalian,
Tanpa harus memandang siapa pribadi yang sedang kita hadapi, selayaknya kita bisa menempatkan perilaku terdidik serta menghormati orang lain. Kita harus sadar kalau hal yang sama juga bisa terjadi pada diri kita. Dalam hal ini, meskipun kita memiliki pengetahuan atau wawasan yang baik akan suatu permasalahan, kita jangan membuat diri kita bodoh oleh karena perkataan kita.
Sebagai masyarakat terdidik, kita harus membiasakan diri untuk menyampaikan opini dengan memperhatikan etika dalam berbicara atau mengemukakan pendapat. Semakin tinggi tingkat pendidikan, wawasan, maupun kemampuan berpikir kita, maka sudah selayaknya kita, dapat menggunakan kata-kata cerdas (memiliki makna serta terarah pada masalah) dan juga santun, untuk mengekspresikan apa yang ada didalam benak pikiran kita.
Apabila kita terlibat pembicaraan didalam suatu forum diskusi, berbagai opini yang kita sampaikan, haruslah memiliki dasar atau konsep pemikiran yang jelas serta benar, tidak bernada kasar, berkesan asal-asalan atau sekenanya saja.
Dengan kata lain, satu atau sejumlah alasan serta alur pemikiran dengan argumentasi yang tepat dan benar, harus ada dibalik opini-opini yang kita sampaikan. Sesuatu yang logis harus dapat kita kemukakan tanpa harus menghadirkan suatu keinginan untuk menciderai perasaan atau hati orang lain.
Hal yang tidak kalah pentingnya, sebaiknya kita tidak menghadirkan suatu opini yang ingin mempertentang-tentangkan prinsip atau pendapat orang lain dengan sesuatu hal yang tidak sesuai dengan konteks pembicaraan, untuk maksud mengalihkan perhatian atau untuk menyenangkan ego kita semata.
Situasi mungkin berubah menjadi emosional. Apabila keadaan itu terjadi, berusahalah untuk tetap bersikap tenang. Hati boleh panas, namun kepala kita harus tetap dingin. Thing fresh…
Apabila kita dapat bersikap tenang, kecil kemungkinan, kita bisa terbawa arus suasana emosional. Ketenangan sikap, bisa membuat kita mengendalikan suasana karena sikap tenang yang kita tunjukkan, cenderung membuat kita untuk tidak bertindak gegabah, yaitu mengucapkan kata-kata yang sekenanya, cenderung kasar, tidak bermoral atau tidak beretika.
Pada sisi yang lain, apabila kita mencoba untuk mempertentang-tentangkan prinsip maupun pendapat orang lain, itu sama artinya kita mencari-cari kesalahan orang lain atau menciptakan sebuah permasalahan baru yang belum tentu berguna, karena dalam sikap yang mempertentangkan, tidak ada upaya untuk mencari nilai-nilai kebenaran dari permasalahan yang ada.
Ketika seseorang menyebutkan dirinya terdidik, maka seharusnya seseorang tersebut mampu menjunjungkan adanya upaya mencari dan mendapatkan nilai-nilai kebenaran sebagai suatu kondisi atau keadaan yang selayaknya menjadi kondisi faktual dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Selain hal-hal diatas, maka ada beberapa hal lain yang patut diperhatikan sebelum kita menyampaikan pendapat kita mengenai orang lain.
Biasakanlah untuk berpikir dahulu baru bicara, jangan berbicara dahulu baru berpikir. Use your mind to control yourself and to control what you want to say…
Apabila kita menempatkan konsep berpikir terlebih dahulu baru berbicara, kita belajar untuk tidak membuat kesalahan berucap, atau bisa segera mengkoreksi kata-kata yang salah maupun kata-kata yang tak layak diucapkan.
Pengendalian diri juga bisa membuat kita bersikap serta bertindak bijaksana, dimana upaya untuk mengendalikan segenap pernyataan yang kita buat, dapat menghindarkan kita dari suatu pembicaraan yang mengarah pada perdebatan tanpa akhir.
Menyimak dan mencermati pembicaraan, perlu dilakukan agar kita tidak salah dalam memberikan tanggapan maupun memberikan komentar yang menyimpang dari topik yang sedang dibicarakan didiskusikan. Oleh karena itu, pemahaman atau pengertian akan seluruh isi bahan pembicaraan, perlu dilakukan sejak awal.
Gunakanlah tata atau gaya bahasa yang tidak memancing emosi atau rasa kesal orang lain. Pakailah kata-kata yang sederhana sehingga mudah dimengerti dan dipahami, sehingga maksud dan tujuan komentar kita, dapat mudah dicerna orang lain.
Hormati serta hargai segenap tanggapan, komentar, maupun pendapat yang diberikan orang lain, sehingga orang lain juga akan menghormati dan menghargai tanggapan, komentar, atau pendapat yang kita sampaikan.
Terkait dengan sikap menghormati dan menghargai diatas, biasakanlah diri kita untuk menjadi seorang pendengar yang baik. Janganlah kita membiasakan diri untuk suka memotong perkataan orang lain.
Mungkin, dengan suka memotong perkataan orang lain, kita ingin menguasai forum pembicaraan. Padahal, dengan menghadirkan sikap suka memotong perkataan orang lain, kita justru memperlambat penyelesaian masalah yang sedang dibicarakan.
Dengan mendengarkan secara lengkap pemaparan dari pola pemikiran orang lain, kita akan mengetahui hal-hal apa saja yang sesungguhnya ingin disampaikan orang lain melalui tanggapan, komentar, atau pendapatnya.
Jangan pernah menyerang pribadi dari orang yang memberikan tanggapan, komentar, atau pendapat. Karena apabila itu kita lakukan, itu sama artinya, kita melihat selumbar di dalam diri orang lain, sedangkan balok di dalam matanya sendiri, tidak dilihatnya.
Segera terselesaikan kah masalah yang sedang dibicarakan? Tentu tidak.
Upaya untuk menyerang sisi pribadi dari orang yang memberikan pendapat, tidaklah membuat pembicaraan yang ada, segera mencapai kata sepakat atau kesimpulan akhir, akan tetapi akan merembet pada hal-hal lain yang sesungguhnya tidak perlu dijadikan bahan pembicaraan.
Yaaa… kita memang harus bersikap pintar. Tapi segenap kepintaran kita adalah untuk memecahkan masalah, bukan pintar dalam membuat masalah…
Oleh karena itu, apabila kita ingin memberikan tanggapan, komentar, atau pendapat yang terkait dengan orang lain atau sebuah peristiwa, biasakanlah diri kita mengungkapkannya berdasarkan fakta atau realita yang ada. Jangan ngarang, berdasarkan apa kata orang lain atau menggunakan asumsi pribadi.
Yaaa... terkait dengan orang lain atau kejadian yang melibatkan orang lain, kita harus memiliki bukti, data, atau fakta yang diakui kebenarannya. Tanpa bukti atau fakta, sebaiknya kita diam saja atau menanyakannya terlebih dahulu.
Diri yang mau belajar adalah pribadi yang sedang meniti tangga kesuksesan hidup, karena dengan belajar, seseorang dapat mengetahui apa yang terbaik untuk dilakukan bagi kemajuan dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar