Rabu, 18 Juli 2012

Mertua

Setiap pasangan suami istri pasti ingin memiliki dan tinggal di rumah sendiri. Namun, kenyataannya, kadang keadaan mengharuskan kita menumpang di rumah orang tua atau mertua. Sebelum terjadi masalah besar, simak ulasan Ajeng Pinto berikut ini.
Setelah menikah, idealnya keluarga baru akan tinggal terpisah dari orang tua. Salah satu tujuannya agar bisa menjalani hidup sesuai kesepakatan berdua, tanpa campur tangan orang lain. Akan tetapi, ada beberapa faktor yang membuat keinginan itu tak dapat terwujud.
“Banyak alasan mengapa pasangan baru harus menumpang di rumah orang tua, baik untuk sementara maupun seterusnya. Bisa jadi orang tua yang meminta karena tak ada lagi yang menemani mereka. Atau karena masalah ekonomi, yaitu belum mampu membeli rumah sendiri. Bisa juga mereka sedang membangun rumah sendiri namun belum selesai sehingga pasangan suami istri terpaksa manumpang sementara di rumah salah satu orang tua,” ungkap psikolog Emilia Naland, M.Si.
TIDAK SEMUANYA NEGATIF
Apapun alasannya, posisi sebagai orang yang menumpang sering dianggap kurang menguntungkan. Apalagi bila di rumah mertua. Tak jarang akhirnya hubungan anak-orang tua atau menantu-mertua berujung pada pertengkaran dan konflik.
Psikolog yang berpraktek di biro konsultan Fame Consultant ini menganggap gesekan atau benturan adalah hal yang tidak terelakkan pada orang yang hidup bersama. “Bagaimana tidak? Dalam satu rumah ada banyak kepala dengan segala perbedaannya. Menyesuaikan diri dengan pasangan yang hanya satu orang saja terkadang banyak gesekan dan benturan juga, kan?” katanya lugas.
Benturan tersebut memang tidak bisa dihindari karena merupakan bagian proses penyesuaian diri. Tapi jangan jadikan hal tersebut sebagai perusak hubungan. Hidup bersama dengan orang tua atau mertua tidak selamanya buruk, kok. Ada hal-hal positif yang bisa diambil, antara lain:
• Menghemat pengeluaran.
Paling tidak Anda tak perlu membayar uang kos atau kontrakan. Hal ini tentu saja sangat membantu pasangan yang sedang menabung untuk membeli rumah sendiri atau untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Biaya-biaya lain, seperti listrik, air, dan telepon juga bisa lebih ringan karena ditanggung bersama.
• Tidak khawatir saat berpergian.
Saat harus ke luar kota karena urusan pekerjaan atau sekadar rekreasi kita tak perlu khawatir meninggalkan rumah dalam keadaan kosong. Hal ini juga berlaku bagi pasangan yang sudah mempunyai buah hati. Tentu lebih aman meninggalkan anak dalam pengawasan orang tua yang bisa lebih dipercaya ketimbang orang lain.
ADA ETIKANYA
Yang perlu dilakukan agar dapat hidup nyaman bersama orang tua adalah meminimalkan konflik. Berikut beberapa etika yang harus diterapkan:
1. Ikut aturan. Sebagai pihak yang menumpang, wajib hukumnya mengikuti aturan main di rumah mertua atau orang tua. Ini adalah bentuk sikap ”tahu diri”.
Jangan seenaknya menetapkan aturan Anda atau pasanan karena dapat mengganggu kenyamanan orang tua atau mertua. Jika ada peraturan di rumah tersebut yang membuat Anda tidak nyaman, cobalah untuk mengerti dan menyesuaikan diri. Bila dianggap terlalu menyulitkan, Anda bisa mengomunikasikannya dengan baik atau meminta kelonggaran atas peraturn itu.
2. Komunikasi masalah kebiasaan. Cobalah untuk mengomunikasikan setiap perbedaan, termasuk masalah kebiasaan yang mungkin berhubungan dengan nilai-nilai yang Anda atau pasangan anut.
Misalnya, Anda tidak terlalu suka dengan kebiasaan mereka soal kebersihan.
Anda tak bisa meminta mereka untuk mengubah kebiasaan secara langsung karena
dapat menyinggung perasaan mereka.
Anda bisa mendiskusikannya dan menjelaskan kepada mereka alasan-alasan yang
cukup kuat. Misalnya meminta ayah mertua untuk tidak merokok di depan bayi Anda dengan alasan kesehatan anak. Orang tua pasti akan mulai mencoba mengerti dan memahami jika alasannya cukup masuk akal.
3. Pahami karakter. Sebelum tinggal bersama, idealnya Anda harus mencoba memahami karakter orang tua atau mertua Anda. Pengenalan karakter ini juga akan membantu Anda dalam berkomunikasi dengan mereka. Komunikasi akan berjalan efektif dan tidak menyinggung perasaan.
4. Jangan mudah tersinggung. Pemahaman karakter yang disebutkan sebelumnya juga akan melatih kepekaan Anda terhadap bahasa yang mereka gunakan.
Ada tipe orang tua yang keras dan ceplas-ceplos dalam berbicara sehingga sering
kali terdengar pedas di telinga. Dalam menghadapi orang tua seperti ini, jangan mudah tersinggung. Cepat tersinggung akan membuat Anda tidak nyaman. Padahal belum tentu apa yang mereka maksud sama seperti yang Anda pikirkan.
5. Ikut berkontribusi. Ini adalah salah satu cara untuk menunjukkan kepedulian Anda terhadap orang tua atau mertua yang ditumpangi. Bentuknya bisa bermacam-macam, misalnya dengan ikut membayar salah satu tagihan (listrik, air, atau telepon). Anda dan pasangan juga bisa ikut patungan untuk membeli kebutuhan pokok.
Selain berbentuk materi, Anda juga bisa memberi kontribusi tenaga. Terlibatlah dalam kegiatan membersihkan rumah, seperti menyapu atau mencuci piring. Jika ada peralatan yang rusak, coba bantu betulkan. Kontribusi Anda mungkin tidak besar, namun setidaknya itu akan menunjukkan kepedulian dan keinginan Anda untuk terlibat sebagai keluarga.
6. Punya daerah otonomi. Meskipun hidup dan tinggal bersama orang tua, Anda dan pasangan tetap butuh daerah pribadi, lho. Mintalah sebuah ruangan khusus, tempat Anda dan pasangan bisa melakukan banyak hal, termasuk bertengkar.
Jika memungkinkan, buatlah batas daerah yang jelas. Misalnya: orang tua di lantai bawah dan Anda di lantai atas. Atau Anda tinggal di paviliun khusus yang terpisah dari rumah inti. Jika tidak memungkinkan, minimal Anda mendapatkan hak penuh atas kamar pribadi. Di situ Anda bisa ”berkuasa”, misalnya mendekor sesuai keinginan.
7. Jaga sikap. Sebagai orang yang lebih muda, Anda harus bisa menghormati orang tua. Jagalah sikap, baik dalam bertingkah laku maupun bertutur kata. Jangan sampai tingkah laku dan kata-kata Anda menyakiti orang tua atau mertua yang telah berbaik hati mengizinkan Anda menumpang.
Intinya, Anda harus rela letih atau bahkan rela berkorban perasaan. Pahamilah hal tersebut sebagai konsekuensi ”ikut” orang lain. Anda juga harus mengerti bahwa orang tua biasanya memiliki kelenturan diri yang berbeda dari Anda, baik soal penerimaan maupun pemahaman.
Maklumilah sikap mereka yang mungkin kekanak-kanakan. Secara psikologis, hampir semua orang tua akan kembali seperti anak-anak seiring usia yang semakin bertambah.
8. Komunikasikan tentang pola Asuh anak. Topik ini sering menjadi pemicu konflik. Biasanya kakek atau nenek cenderung lebih memanjakan cucu. Hal tersebut tentu akan menjadi masalah ketika Anda dan pasangan ingin mengajarkan anak kemandirian.
Agar tidak salah paham, komunikasikan dan libatkan orang tua dalam pola asuh yang Anda terapkan, seperti mengajak mereka mengawasi ketika anak belajar dan ikut memberi hukuman ketika anak melanggar peraturan. Dengan begitu mereka akan merasa dianggap dan dihargai keberadaannya sebagai orang tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar